Senin, 05 November 2012

Kota Hijau Tanpa Transportasi


Perdebatan soal perubahan iklim di Indonesia masih berkutat soal penataan hutan dan lahan gambut daripada soal area perkotaan. Padahal, kota-kota di Indonesia memiliki kerentanan sendiri terhadap berbagai dampak perubahan iklim.

Beberapa dampak itu sudah mulai kita rasakan sekarang. Perubahan iklim bisa menyebabkan kemarau berkepanjangan yang kemudian mengancam terjadinya krisis air bersih.

Badai tropis juga bisa semakin sering terjadi, begitu pula dengan hujan yang intensitasnya semakin deras. Infrastruktur perkotaan kadang membuat manusia-manusia di dalamnya terjebak saat banjir atau hujan deras melanda, tanpa sistem perlindungan atau pengetahuan cukup akan cara mengatasi situasi tersebut.

Bayangkan saja, jika banjir seperti di Bangkok terjadi di Jakarta atau kota-kota besar lainnya di Indonesia, apakah pemerintah lokal sudah siap untuk mengatasinya? Sementara, Pusat Data Informasi dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana sudah memperkirakan Jakarta akan lumpuh total akibat banjir yang terjadi pada akhir tahun ini sampai awal tahun depan, sesuai siklus banjir lima tahunan.

Belum lagi ketika kenaikan permukaan air laut terjadi. Kota-kota yang berada di daerah pesisir akan terancam terendam. Orang-orang yang tinggal dekat dengan pinggir laut pun bisa kehilangan rumahnya. Tidak jarang, penduduk yang tinggal tepat di pinggir laut memiliki kemampuan ekonomi terbatas. Memindahkan rumah pun jadi sesuatu yang tidak mungkin bagi mereka.

Sekitar 75% dari kota-kota di Indonesia terletak di area pesisir. Jakarta, Semarang, Surabaya, Cirebon, kota-kota di sepanjang jalur Pantura, Medan, Makassar, Pontianak, dan Padang hanyalah beberapa contohnya. Kementerian Pekerjaan Umum mencatat ada 123 juta penduduk Indonesia yang kini tinggal di perkotaan. Mereka semua terancam akan berbagai risiko dari dampak perubahan iklim.

Perubahan iklim juga membuat Indonesia berpikir ulang soal emisi gas karbondioksida yang dilepaskan ke udara. Indonesia menargetkan, pada 2020 nanti akan mengurangi emisi gas rumah kacanya sebesar 26%.

Kota, tempat terjadinya pusat aktivitas industri dan konsumsi energi, tentu menjadi sumber emisi karbon yang besar. Jumlah kota di Indonesia pun terus bertambah, dari 45 kota pada 1970, Indonesia memiliki 98 kota pada 2010.

Pembangunan yang tidak merata di Indonesia selama ini membuat Jakarta jadi kota modern yang sejahtera. Kota-kota di Indonesia pun seolah belum beranjak dari upaya 'menyaingi Jakarta'.

Padahal Jakarta adalah kota yang tidak efisien, salah satunya dari segi konsumsi energi dan air. Pengelolaan sampah juga menjadi masalah menahun. Sistem transportasi tidak terintegrasi dengan rencana penataan kota. Alhasil, masyarakat memilih menggunakan kendaraan pribadi sebagai solusi transportasi sehari-hari mereka. Kemacetan (sedikitnya) dua jam menjadi menu sehari-hari penduduk kota.

Kementerian Pekerjaan Umum meminta kota-kota di Indonesia untuk mulai membuat perencanaan 'hijau' agar mengurangi emisi karbondioksidanya.

Kota hijau, dalam pandangan mereka, bukan hanya soal menanam pohon atau menambah ruang terbuka hijau, tapi juga soal pengelolaan sampah, efisiensi penggunaan air dan energi, serta penerapan sistem transportasi yang terintegrasi dengan perencanaan tata kota.

Menurut Wakil Kepala Perencanaan Pengembangan Tata Ruang Nasional Kementerian Pekerjaan Umum Budi Situmorang di Durban, Afrika Selatan, Kamis (2/12) lalu, tercatat sudah ada 60 kota di Indonesia yang akan mengembangkan perencanaan kota hijau ini.

Sampai 2011, Kementerian Pekerjaan Umum memprioritaskan pengembangan kota hijau dari segi perencanaan tata kota, peningkatan jumlah ruang terbuka hijau, dan penguatan komunitas sebagai elemennya. Pada 2012, ditargetkan kota-kota ini harus sudah melaksanakan perencanaan kota hijau yang mereka buat tersebut.

Sayangnya, elemen transportasi dalam perencanaan kota hijau ditargetkan baru mulai direncanakan pada 2020 untuk diterapkan pada 2025. Padahal ada kebutuhan yang nyata dan mendesak antara sekarang sampai 2025 untuk mengatasi kepemilikan motor dan mobil yang terus bertambah setiap harinya di berbagai kota besar di Indonesia.

Perlu diingat juga, salah satu yang menjadikan Jakarta kota yang tidak efisien adalah tidak ada ketersambungan antara penataan ruang dan sistem transportasi. Tanpa kesinambungan itu, kota-kota terancam dibangun dengan paradigma kendaraan pribadi, seperti yang sudah terjadi selama ini.

Memisahkan antara target penataan ruang dan transportasi hijau berarti memunculkan potensi munculnya Jakarta-Jakarta baru di Indonesia, yaitu kota-kota yang tidak memiliki sistem transportasi publik yang bagus sehingga boros energi. Padahal, rencana kota hijau ini dimaksudkan untuk menghindari 'model Jakarta' dalam pembangunan kota-kota di Indonesia.

Ketika ditanya alasan pemisahan antara tata ruang dan transportasi, Budi mengatakan, "Kita tidak akan menggunakan transportasi konvensional seperti yang kita lihat sekarang. Transportasi hijau bukan cuma efisiensi energi, tapi juga soal menggunakan bahan bakar yang lebih rendah emisi."

Menurut dia, Kementerian Pekerjaan Umum lebih berharap dalam jangka waktu 13 tahun itu, sektor privatlah yang akan menyiapkan bahan bakar rendah emisi atau sistem transportasi hijau yang kemudian bisa diadopsi oleh kota-kota di Indonesia.

Di sisi lain, Kepala Pusat Penelitian Energi, Iklim, dan Pengembangan Berkelanjutan Badan Lingkungan PBB (United Nations Environmental Programme/UNEP) John Christensen memperingatkan adanya bahaya dalam model pembangunan kota yang memisahkan antara tata kota dengan perencanaan jalur transportasi.

Ia melihat ada fenomena di negara-negara berkembang akan ketidaksinambungan pembangunan kota dengan perencanaan trayek angkutan umum. Akibatnya, transportasi publik tidak bisa menjawab kebutuhan warganya untuk kenyamanan atau kecepatan. Mereka pun kembali memilih kendaraan pribadi sehingga kota-kota menjadi sumber kemacetan sekaligus emisi gas rumah kaca.

Tak perlu berpikir muluk soal teknologi yang baru akan tersedia satu dekade mendatang. Menurut Christensen, pemerintah lokal sudah harus mulai dari sekarang menunjukkan kemauan politik mereka menciptakan kota ramah energi dengan menginvestasikan lebih banyak uang di sektor transportasi publik.

Direktur Iklim dan Energi World Future Council Stefan Schurig dalam presentasinya soal membangun kota-kota hijau di Durban, Rabu (1/12) juga menyebut, salah satu elemen penting untuk meminimalkan emisi karbon perkotaan adalah lewat memikirkan cara-cara baru untuk memenuhi atau mengubah pola konsumsi penduduk kota dari segi transportasi.

Bahwa keputusan politik pemerintah lokal-lah yang pertama-tama punya kekuatan untuk menentukan bagaimana penduduk suatu kota bisa bergerak dari satu titik ke titik lainnya, bukan sekadar menunggu perkembangan yang masih belum pasti dari sektor privat.

Label:

Pohon Tengkawang


Tengkawang (Shorea spp.) adalah nama buah dan pohon dari genus Shorea yang buahnya menghasilkan minyak nabati. Pohon Tengkawang hanya terdapat di pulau Kalimantan dan sebagian kecil Sumatera. Dalam bahasa Inggris, flora (tanaman) langka ini dikenal sebagai Illepe Nut atau Borneo Tallow Nut. Pohon yang terdiri atas belasan spesies (13 diantaranya dilindungi dari kepunahan) ini menjadi maskot (flora identitas) provinsi Kalimantan Barat.
Pohon Tengkawang yang termasuk dalam golongan kayu kelas tiga (umumnya digolongkan sebagai Meranti Merah) mempunyai ciri-ciri khas dengan pohon yang tinggi besar, mempunyai banyak cabang dan berdaun rimbun. Uniknya tanaman ini tidak tiap tahun berbuah. Tumbuhan ini hanya berbuah sekali dalam periode antara 3-7 tahun yang terjadi sekitar bulan Juni – Agustus.
Mungkin lantaran masa berbuahnya yang tidak setiap tahun inilah yang menyebabkan orang jarang yang membudidayakan tumbuhan ini. Pohon Tengkawang yang menjadi maskot Kalimantan Barat ini hampir seluruhnya hidup liar di hutan-hutan.  Bahkan di hutanpun mulai terancam kepunahan.
Buah Tengkawang menghasilkan minyak lemak yang berharga tinggi. Minyak Tengkawang dihasilkan dari biji Tengkawang yang telah dijemur hingga kering kemudian ditumbuk dan diperas hingga keluar minyaknya.
Secara tradisional, minyak Tengkawang digunakan untuk memasak, penyedap masakan dan untuk ramuan obat-obatan. Dalam dunia industri, minyak tengkawang digunakan sebagai bahan pengganti lemak coklat, bahan farmasi dan kosmetika. Pada masa lalu tengkawang juga dipakai dalam pembuatan lilin, sabun, margarin, pelumas dan sebagainya. Minyak tengkawang juga dikenal sebagai green butter.
Akhir-akhir ini pohon Tengkawang semakin langka karena banyak yang ditebang untuk dipergunakan sebagai bahan bangunan. Selain itu kayu pohon ini banyak yang dijual dengan harga antara Rp. 300.000 hingga Rp. 600.000 per meter kubik. Mungkin lantaran periode berbuahnya yang lama, antara 3-7 tahun sekali, meskipun minyak Tengkawang yang dihasilkan dati flora maskot Kalimantan Barat ini mempunyai nilai jual yang tinggi.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae (tidak termasuk Eudicots dan Rosids) Ordo: Malvales. Famili: Dipterocarpaceae. Genus: Shorea.

Label:

Pohon Tengkawang Berbuah 7 Tahun Sekali

Pohon TengkawangPohon Tengkawang, ayo siapa yang pernah mendengarnya?. Tengkawang (Shorea spp.) adalah nama buah dan pohon dari genus Shorea yang buahnya menghasilkan minyak nabati. Pohon Tengkawang hanya terdapat di pulau Kalimantan dan sebagian kecil Sumatera. Dalam bahasa Inggris, flora (tanaman) langka ini dikenal sebagai Illepe Nut atau Borneo Tallow Nut. Pohon yang terdiri atas belasan spesies (13 diantaranya dilindungi dari kepunahan) ini menjadi maskot (flora identitas) provinsi Kalimantan Barat.
Pohon Tengkawang yang termasuk dalam golongan kayu kelas tiga (umumnya digolongkan sebagai Meranti Merah) mempunyai ciri-ciri khas dengan pohon yang tinggi besar, mempunyai banyak cabang dan berdaun rimbun. Uniknya tanaman ini tidak tiap tahun berbuah. Tumbuhan ini hanya berbuah sekali dalam periode antara 3-7 tahun yang terjadi sekitar bulan Juni – Agustus.
Mungkin lantaran masa berbuahnya yang tidak setiap tahun inilah yang menyebabkan orang jarang yang membudidayakan tumbuhan ini. Pohon Tengkawang yang menjadi maskot Kalimantan Barat ini hampir seluruhnya hidup liar di hutan-hutan.  Bahkan di hutanpun mulai terancam kepunahan.
Buah Tengkawang menghasilkan minyak lemak yang berharga tinggi. Minyak Tengkawang dihasilkan dari biji Tengkawang yang telah dijemur hingga kering kemudian ditumbuk dan diperas hingga keluar minyaknya.
Biji TengkawangSecara tradisional, minyak Tengkawang digunakan untuk memasak, penyedap masakan dan untuk ramuan obat-obatan. Dalam dunia industri, minyak tengkawang digunakan sebagai bahan pengganti lemak coklat, bahan farmasi dan kosmetika. Pada masa lalu tengkawang juga dipakai dalam pembuatan lilin, sabun, margarin, pelumas dan sebagainya. Minyak tengkawang juga dikenal sebagai green butter.
Ada belasan jenis pohon Tengkawang, di antaranya:
  • Shorea stenoptera, Tengkawang Tungkul
  • Shorea mecystopteryx, Tengkawang Layar
  • Shorea pinanga, Tengkawang Rambai
  • Shorea semiris, Tengkawang Terendak
  • Shorea beccariana, Tengkawang Tengkal
  • Shorea micrantha, Tengkabang Bungkus
  • Shorea palembanica, Tengkawang Majau
  • Shorea lepidota, Tengkawang Gunung
  • Shorea singkawang, Sengkawang Pinang
  • Shorea stenopten,
  • Shorea compressa
  • Shorea gysberstiana,
  • Shorea martiana,
13 (tiga belas) spesies Tengkawang tersebut dilindungi dari kepunahan berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1999. Selain ketiga belas jenis tersebut masih terdapat beberapa spesies lain, diantaranya:
  • Shorea amplexicaulis, Tengkawang Mege
  • Shorea fallax , Tengkabang Layar
  • Shorea havilandii, Selangan Batu Pinang, Tengkawang Ayer
  • Shorea macrophylla, Tengkawang Hantelok
  • Shorea scaberrima, Tengkawang Kijang
  • Shorea splendida, Tengkawang Bani
  • Shorea sumatrana, Kedawang, Tengkawang Batu
Akhir-akhir ini pohon Tengkawan semakin langka karena banyak yang ditebang untuk dipergunakan sebagai bahan bangunan. Selain itu kayu pohon ini banyak yang dijual dengan harga antara Rp. 300.000 hingga Rp. 600.000 per meter kubik. Mungkin lantaran periode berbuahnya yang lama, antara 3-7 tahun sekali, meskipun minyak Tengkawang yang dihasilkan dati flora maskot Kalimantan Barat ini mempunyai nilai jual yang tinggi.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae (tidak termasuk Eudicots dan Rosids) Ordo: Malvales. Famili: Dipterocarpaceae. Genus: Shorea.
Referensi: wikipedia.org; kidnesia.com; pontianakpost.com (13/02/2004); www.dephut.go.id; Gambar: commons.wikimedia.org

Label:

contoh HASIL HUTAN NON KAYU


Secara garis besar hasil hutan dibagi menjadi 2 bagian yaitu hasil hutan berupa kayu dan hasil hutan non kayu. Hasil hutan non kayu terdiri dari produk nabati dan hewan. Untuk hasil hutan non kayu nabati bisa dikelompokkan ke dalam kelompok rotan, kelompok bambu dan kelompok bahan ekstraktif (misalnya Damar, Terpentin, Kopal, Gondorukem dan sebagainya).
Berikut ini akan diuraikan secara ringkas beberapa jenis hasil hutan non kayu nabati, yang termasuk dalam kelompok bahan ekstraktif.

  1. Damar Merupakan getah yang dihasilkan oleh pohon yang termasuk famili Dipterocarpaceae. Dalam perdagangan dikenal jenis-jenis damar yaitu Damar Mata Kucing, Damar Merah dan Damar Hitam. Pemungutan masih dilakukan secara sederhana dan tradisional yaitu dengan penyadapan kulit batang, getahnya dibiarkan selama sampai 3 bulan.
    Kegunaan :
    Untuk bahan baku korek api, plastik, plester, vernis, lak dan sebagainya. Larutannya dalam chloroform dapat dipakai untuk mengawetkan binatang dan tumbuhan.
  2. Gondorukem Nama lain : pine rosin, rosin, colophony, siongka dan sebagainya. Merupakan getah yang diambil/disadap dari pohon Pinus dari suku Pinaceae. Getah tersebut diproses dengan jalan penyulingan air yang kadang-kadang disertai vakum. Bagi yang merupakan residu dari penyulingan itu disebut gondorukem yang berwarna ambar-bening, sedang fraksi destilatnya adalah terpentin.
    Berdasarkan warnanya, getah gondorukem diklafikasikan menjadi beberapa kelas yaitu B, C, D, E, F, G, H, I, K, M, N, dan W-G.
    Kegunaan :
    Kelas B, C, D (Warna gelap) digunakan untuk industri minyak rosin dan vernis gelap. Kelas E, F, G digunakan sebagai bahan penolong dalam industri kertas. Kelas G dan K digunakan induk industri sabun. Kelas W-G dan W-W (Warna pucat) digunakan untuk bahan vernis warna pucat, scaling wax, bahan peledak, pelapis alat-alat yang dipegang tangan, bahan penggosoksenar, bahan solar, bahan cat, tinta cetak, semen, kertas, politur kayu, plastik, kembang api dan sebagainya.
  3. Kemenyan Nama lain : benzoin, benzoe, benzoin gum, labah jawi. Merupakan getah sebagai hasil penyadap pohon Styrax benzoin Dryan atau Styraxtonkinensis Craib yang termasuk famili Styracaceae. Getahnya berwarna putih abu-abu. Kemenyan merupakan bahan baku asem benzoat dan asam sinamat.
    Kegunaan :
    • Sebagai obat yaitu perangsang ekseptoransia dan obat luka;
    • Sebagai bahan inclures dalam industri vernis dan kosmetik.
  4. Jernang Nama lain : dragon’s blood, jernang mandai, getah badak, getah warak dan sebagainya. Berupa getah yang dihasilkan dari pohon Daemonorops draco BI, termasuk famili Palmae. Getahnya berwarna merah.
    Kegunaan :
    Bahan pewarna keramik, marmer alat-alat batu, kayu kertas, cat dan sebagainya. Dalam farmasi digunakan serbuk untuk gigi, ekstrak tanin dan sebagainya.
  5. Terpentin Nama lain : oil of turpentine, spirit of turpentine. Merupakan destilat penyulingan getah atau kayu Pinus. Di Indonesia dihasilkan dari getah Pinus merkusii Jungh et de Vries.
    Penyulingan dari getah dilakukan secara langsung dengan uap atau dengan air, kadang-kadang disertai vakum. Terpentin dihasilkan sebagai destilat dan merupakan hasil samping dalam pengolahan gondorukem.
    Kegunaan :
    Sebagai pelarut minyak organik dan resin. Dalam industri digunakan sebagai bahan semir sepatu. Logam dan kayu, juga sebagai bahan kamper sintetis.
  6. Kopal Nama lain : resin kopal, gum copel, anime (solf copel), cavarie, pepeda, damar minyak, damar sewa, bua loba, melengket masihu, damar penggal dan sebagainya. Merupakan hasil sekresi berbagai pohon antara lain : Agathis alba, A. dammara, A. latifolia, A. Robusta, A. macrophylla, A. australia, A. selebica, A. boornensis yang semua termasuk dalam famili Pinaceae.
    Kegunaan :
    Digunakan sebagai bahan cat, vernis spiritus, lak merah, email, vernis bakar, plastik, bahan pelapis tekstil, tinta cetak, perekat, cairan pengeringan dan sebagainya.
  7. Getah Perca Nama lain : gutta perca, getah merah, isonandra gutta, red makasar, gutta seak dan gutta soh.
    Diperoleh sebagai hasil ekstraksi daun dan penyadapan pohon Palaquium dan Payena terutama pohon Palaquium gutta Burck, termasuk famili Sapotaceae.
    Kegunaan :
    Sebagai bahan isolasi kabel dan kawat listrik, dalam bidang kedokteran gigi, water prooting agent, lapis alat mekanis dan sebagainya.
  8. Minyak Kayu Putih Nama lain : oil of cayeput, cayeput oil.
    Kayu putih dihasilkan dari ranting daun Melaleuca leucadendron Linn. Atau Melalleuca minor Smith, termasuk famili Myrtaceae. Pengambilan daun dapat dilakukan sepanjang tahun tanpa musim, umumnya diambil daun yang agak tua, paling sedikit berumur 6 bulan dengan jalan memotong cabang dan rantingnya.
    Minyak kayu putih diperoleh dengan cara menyuling air atau penyulingan langsung dengan uap dan air.
    Kegunaan :
    Untuk obat gosok maupun obat diminum, mengurangi kejang sakit kepala, sakit gigi, reumatik, sakit dada, bengkak, luka iris, luka bakar, sakit otot, sebagai bahan insektisida dan perfumeri.
  9. Minyak Tengkawang Nama lain : Borneo tallow, kawang kakowang, green butter. Minyak tengkawang diperoleh dari biji buah pohon tengkawang (Shorea sp. dan Isoptera sp.) antara lain tengkawang tungkul (Shorea stenoptera Burck), tengkawang majau (Shorea lepidota BI), tengkawang Liyar (Shorea gysbertsiana Burck), tengkawang terendak (Shorea seminis), termasuk dalam famili Dipterocapaceae.
    Minyak tengkawang diperoleh dari biji tengkawang yang telah kering yang diperas hingga keluar lemaknya.
    Kegunaan :
    Oleh rakyat digunakan sebagai minyak goreng dan obat-obatan. Dalam industri digunakan sebagai bahan pembuat lilin, kosmetik, farmasi, pengganti lemak coklat, sabun margarin pelumas dan sebagainya.
  10. Minyak Jarak Nama Lain : castor oil, kastrol, ricinus oil.
    Minyak jarak dihasilkan dari hasil pengempaan biji jarak (Ricinus communis Linn) termasuk famili Euphorbiaceae.
    Kegunaan :
    Dalam industri digunakan sebagai bahan sabun khusus, tekstil, karet, bahan pelumas pengawet kulit, isolasi listrik, kosmetik, plastik dan obat-obatan terutama sebagai obat kuras perut, juga digunakan sebagai cairan hindrolik.

Label:

Rabu, 31 Oktober 2012

contoh surat delegasi



Nomor             :   02/B/UKOM/FP-UTD/XII/2009
Lampiran         :   4 Lembar                                                                                              
Perihal             :   Permintaan  Delegasi

Kepada YTH,
Ketua HMJ/ UKF………………………………..
Di-
    Tempat

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakattu
Semoga segala aktivitas keseharian kita senantiasa diridhoi oleh Allah SWT, Amien.

Sehubungan akan diadakannya turnamen Liga Pertanian  Fakultas Pertanian  maka dengan ini kami dari panitia pelaksana bermaksud untuk mengajukan Surat permintaan delegasi ketiap-tiap lembaga agar mengikuti kegiatan olahraga tersebut.

Demikian surat ini kami sampaikan semoga mendapat respon yang positif. Atas bantuannya kami ucapkan terima kasih.

Palu, 16 Desember 2009

   Panitia Pelaksana
     Ketua                                                                          Sekretaris


                            Taufik                                                                             Mirdat
                        
Mengetahui,
 Unit Kegiatan Olahraga Mahasiswa
Fakultas Pertanian Universitas tadulako 



H a m k a
Ketua umum


Lampiran:

  1. Cabang Olah Raga yang dipertandingkan yaitu Sepak Bola, Sepak Takraw dan Bola Volly
  2. Biaya Pendaftaran :
©      Sepak Bola                  Rp  25.000
©      Sepak Takraw             Rp  20.000
©      Bola Voli                     Rp  20.000
      3.   Pendaftaran selambat-lambatnya tanggal 21 Desember 2009
      4.   Tempat pendaftaran  Ulul Albab atau berhubungan langsung kepada  :
©      Taufik  (Peternakan 08)
©       Mirdat (Agroteknologi 08)
©      Aswardin  (Agroteknologi 08)
©      Zainal Afif (Perikanan 07)
5.        Tehnikal Meeting tanggal  21 Desember 2009

Formulir Sepak Bola Liga Pertanian

HMJ/UKF   :

Nama  Tim :

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.

                                                                 



 
                                                                                                   Manajer


Formulir Takraw

UKF/HMJ   :   
Nama Tim  :

1.
2.
3.
4.
5.
6

---------------------------------------
               Manajer
Formulir Bola Voly

UKF/HMJ   :
Nama tim    :

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10
11
---------------------------------------
                        Manager


Label:

Dosen Fakultas Kehutanan UNTAD



NO
NAMA DOSEN / NIP
NIDN
BIDANG KEAHLIAN
KELOMPOK DOSEN
1.
Dr. Ir. Hj. Wardah, M.FSc
NIP. 19600605 198503 2 001
0005066013
Budidaya Hutan (Ekologi Hutan)
Budidaya Hutan
2.
Ir. H. Husain Umar, M.P
NIP. 19571209 198603 1 001
0009125708
Budidaya Hutan
Budidaya Hutan
3.
Ir. H. Imran Rahman, M.P
NIP. 19590301 198701 1 001
0001035908
Manajemen Hutan
Kehutanan Masyarakat
4.
Ir. H. Akhbar, M.T
NIP. 19621231 198702 1 056
0031126273
Manajemen Hutan (Geodesi)
Perencanaan & Sistem Informasi Hutan
5.
Ir. Muslimin, M.P
NIP. 19581231 198710 1 003
0031126273
Budidaya Hutan (Bioteknologi Hutan)
Budidaya Hutan
6.
Dr. Ir. Adam Malik, M.Sc
NIP. 19630306 198803 1 003
0006036309
Manajemen Hutan
Perencanaan & Sistem Informasi Hutan
7.
Ir. H. Kaharuddin Bado
NIP. 19571006 199803 1 001
0006105706
Manajemen Hutan
Perencanaan & Sistem Informasi Hutan
8.
Ir. Sri Ningsih, M.P
NIP. 19630809 198803 2 001
0009086305
Konservasi SDH (Ekologi Satwa Liar)
Konservasi SDH
9.
Ir. Hj. Retno Wulandari, M.P
NIP. 19621114 198903 2 001
0014116203
Budidaya Hutan (Silvikultur)
Budidaya Hutan
10.
Ir. Arief Sudhartono, M.P
NIP. 19620402 199001 1 001
0002046206
Konservasi SDH
Konservasi SDH
11.
Ir. Elhayat Labiro
NIP. 19580915 199003 1 001
0015095809
Konservasi SDH (Ekologi Satwa Liar)
Konservasi SDH
12.
Prof. Dr. Ir. Syukur Umar, DESS
NIP. 19651127 199001 1 001
0027116506
Manajemen Hutan
Ekonomi Kehutanan
13.
Dr.Ir.Ismet Khaeruddin, MDM, PhD
NIP. 19670927 199203 1 003
0027096707
Manajemen Hutan
Ekonomi Kehutanan
14.
Dr. Ir. Hamzari, M.Sc
NIP. 19630710 199302 1 001
0010076307
Manajemen Hutan
Perencanaan & Sistem Informasi Hutan
15.
Ir. Herman Harijanto, M.P
NIP. 19660513 199302 1 001
0013056602
Konservasi SDH
Konservasi SDH
16.
Ir. Abdul Rosyid, M.P
NIP. 19640826 199510 1 001
0026086405
Konservasi SDH (Ekologi Satwa Liar)
Konservasi SDH
17.
Moh. Agus Rahmat, S.P.,MESS
NIP. 19690801 199512 1 001
0001086905
Manajemen Hutan (Ekowisata)
Perencanaan & Sistem Informasi Hutan
18.
Dr. Irma Sribianti, S.Hut., M.P
NIP. 19710107 199903 2 002
0007017105
Konservasi SDH (Ekologi & Ekonomi Hutan Mangrove)
Konservasi SDH
19.
Dr. Erniwati, S.Hut., M.P
NIP. 19730806 199903 2 001
0006087306
Teknologi Hasil Hutan
Teknologi Hasil Hutan
20.
Dr. Golar, S.Hut., M.Si
NIP. 19730224 200003 1 001
0024027301
Manajemen Hutan (Perhutanan Sosial)
Kehutanan Masyarakat
21.
Ir. Ariyanti, M.P
NIP. 19660630 200003 2 001
0030066604
Teknologi Hasil Hutan
Teknologi Hasil Hutan
22.
Naharuddin, S.Pd., M.Si
NIP. 19721230 200112 1 002
0030127203
Konservasi SDH (Pengelolaan DAS)
Konservasi SDH
23.
Rahmawati, S.P., M.P
NIP. 19700414 200112 2 001
0014047005
Budidaya Hutan (Silvikultur)
Budidaya Hutan
24.
Dr. Sc. Agr. Yusran, S.P., M.P
NIP. 19740101 200212 1 002
0001017406
Budidaya Hutan (Mikrobiologi & Penyakit Hutan)
Budidaya Hutan
25.
Zulkaidah, S.P., M.P
NIP. 19781014 200312 2 003
0014107804
Budidaya Hutan (Hama Hutan)
Budidaya Hutan
26.
Hasriani Muis, S.Hut., M.Si
NIP. 19761211 200312 2 003
0011127607
Manajemen Hutan
Kehutanan Masyarakat
27.
Sustri, S.Hut., M.Sc
NIP. 19800706 200501 2 002
0006078001
Konservasi SDH
Konservasi SDH
28.
Dr. Ir. H. Abdul Wahid, M.Si
NIP. 19580814 198603 1 004
0014085809
Keteknikan Kehutanan
Perencanaan & Sistem Informasi Hutan
29.
Abdul Hapid, S.Hut., M.Sc
NIP. 19780820 200501 1 001
0020087802
Teknologi Hasil Hutan
Teknologi Hasil Hutan
30.
Ida Arianingsih, S.T., M.P
NIP. 19790726 200501 2 002
0026077901
Manajemen Hutan (Geomatika/GIS)
Perencanaan & Sistem Informasi Hutan
31.
Sudirman Dg. Massiri, S.Hut., M.Sc
NIP. 19810402 199001 1 001
0002048102
Manajemen Hutan (Ekonomi Sumber Daya Hutan)
Ekonomi Kehutanan
32.
Sitti Ramlah, S.Hut., M.Sc
NIP. 19810121 200604 2 003
0021018107
Konservasi SDH
Konservasi SDH
33.
Muh. Ikhsan, S.Hut
NIP. 19790727 200604 1 003
0027077907
Konservasi SDH
Konservasi SDH
34.
Ir. Rukmi, M.P
NIP. 19640819 200604 2 001
0019086404
Konservasi SDH (Ekologi Hutan)
Konservasi SDH
35.
Bau Toknok, S.P., M.P
NIP. 19730730 200701 2 001
0030077306
Konservasi SDH (Ekologi Hutan Mangrove)
Konservasi SDH
36.
Hj. Irmasari, S.P., M.P
NIP. 19750203 200701 2 002
0003027509
Budidaya Hutan (Silvikultur)
Budidaya Hutan
37.
Muthmainnah, S.Hut
NIP. 19810215 200710 2 001
0015028106
Teknologi Hasil Hutan
Teknologi Hasil Hutan
38.
Andi Sahri Alam, S.P., M.P
NIP. 19770308 200801 2 014
0008037705
Manajemen Hutan (Ekonomi Sumber Daya Hutan)
Ekonomi Hutan

Label: